Aku masih mendengar John Mayer memetik gitarnya. Kau juga, kan?. Aku masih ingat bagaimana kita pernah jatuh hati pada nada yang sama, meski kini akhirnya berakhir pada masa depan yang berbeda.
Aku juga masih mengagumi ketampanannya. Dan kau masih ingin menang, kan?. Hanya karena kamu lebih muda 15 tahun darinya, menganggap bahwa ia tak pantas untuk kukagumi. Hal-hal sepele yang dulu bisa kita perdebatkan panjang lebar, seolah tak ada urusan lain yang lebih penting untuk dibicarakan.
Aku masih mendambakan gitar merah muda yang diberikannya kepada Rosé. Kau sama sepakatnya padaku bahwa Rosé begitu indah membawakan Slow Dancing In The Burning Room. Jadi pantas kalau ia mendapatkan itu dari John. Tidak bermaksud berharap, tapi aku masih ingat kau pernah berjanji akan membawaku ke konsernya. Ketika kulihat John Mayer kembali memulai turnya April lalu, otakku langsung tertuju padamu. Lucu juga, sebab April adalah bulan ketika usiamu bertambah. Pasti kau anggap itu kado semesta untukmu. Aku bertanya-tanya apakah kau masih mengingatku sebagaimana aku masih mengingat hal-hal kecil tentangmu. Terutama saat kau memutar Still Like Your Man.
Aku pernah merasa beratnya Edge of Desire di sepanjang lampu-lampu kotamu. Kau tetap tak tahu, kan, betapa beratnya aku melewati semua itu? Padahal kau yang paling paham apa maknanya. Aku juga masih berusaha melawan Gravity. Entah bagaimana, acapkali kau masih menjadi sesuatu yang menarikku jatuh ke kubangan kenangan yang dulu kita sebut telaga. Aneh memang, sesuatu yang dulu terasa begitu jernih kini justru membuatku kesulitan menemukan jalan keluar.
Terkadang aku masih ingin menaiki Last Train Home bersamamu. Pernah ada masa ketika kupikir bersamamu disanalah tujuanku berada. Sekarang kereta terakhir itu mungkin masih berjalan, hanya saja kita tak lagi turun di stasiun yang sama. Kau sudah turun menemukan rumahmu, dan aku tetap melaju tak yakin turun di mana.
Ah iya, harus kuakui, You're Gonna Live Forever in Me memang benar adanya. Tapi belakangan aku justru membenci lagu kesukaanmu itu. Bukan karena aku masih menginginkanmu kembali, melainkan karena internet telah membuat lirik But you're gonna live forever in me terdengar seperti Jokowi lives forever in me.
Sial sekali, kenanganmu dan petikan gitar John Mayer kini harus bersaing dengan wajah pria Solo itu.

No comments:
Post a Comment