Mengapa Kita Perlu Membicarakan Air Seusai Istisqa?

October 19, 2026 · Lisa BintiZumri



Beberapa hari terakhir, penulis mendapati sejumlah kabar tentang pelaksanaan salat istisqa di berbagai daerah. Rupanya kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai membuat masyarakat berharap agar hujan segera turun. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan kekeringan dan menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Membaca kabar-kabar tersebut, penulis jadi teringat materi iklim yang biasa diajarkan di kelas. Kebetulan, sebagai guru Geografi, urusan hujan, angin, dan pergantian musim memang menjadi salah satu hal yang cukup akrab dalam keseharian penulis.

Dalam klimatologi, musim hujan di sebagian wilayah Jawa umumnya mulai berlangsung sekitar Oktober hingga Desember. Itu pun tidak selalu sama setiap tahunnya. Ada kalanya datang lebih awal, ada pula yang terlambat karena berbagai faktor iklim. Maka ketika Oktober masih terasa panas dan hujan belum banyak turun, penulis sempat berpikir bahwa barangkali memang musim hujannya belum tiba. Meski tentu saja, bagi masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan air, persoalannya tidak sesederhana menunggu pergantian musim.

Dari situ, muncul satu pertanyaan yang rasanya menarik untuk direnungkan.

Mengapa kita begitu mudah berkumpul untuk meminta hujan, tetapi jarang berkumpul untuk membicarakan bagaimana seharusnya air dikelola?

Pertanyaan ini tentu bukan untuk mempersoalkan salat istisqa. Dalam ajaran Islam, salat istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang diajarkan Rasulullah ketika manusia membutuhkan hujan. Hanya saja, barangkali persoalan kekeringan juga perlu kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas.

Penulis kemudian teringat sebuah hadis riwayat Anas bin Malik. Dikisahkan seorang laki-laki meminta Rasulullah berdoa agar hujan turun karena masyarakat mengalami kesulitan akibat kekeringan. Rasulullah pun berdoa, dan hujan turun.

Menariknya, dalam kelanjutan riwayat tersebut, hujan yang terus berlangsung justru menimbulkan kesulitan lain. Rasulullah kemudian berdoa:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan tepat di atas kami.

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajak penulis kembali memikirkan hubungan manusia dengan air. Ketika kemarau, kita berharap hujan segera datang. Namun, ketika musim hujan tiba, tidak jarang kita justru menghadapi banjir dan genangan.

Tentu kekeringan dan banjir merupakan persoalan yang kompleks. Namun, dalam Geografi, keduanya tidak hanya berkaitan dengan banyak atau sedikitnya curah hujan, tetapi juga kondisi lingkungan dan bagaimana air dikelola. Berkurangnya daerah resapan, perubahan penggunaan lahan, hingga pengambilan air tanah yang berlebihan dapat memperburuk ketersediaan air. Ketika hujan turun, sebagian air justru mengalir begitu saja tanpa cukup banyak tersimpan di dalam tanah.

Barangkali di sinilah kita perlu memberikan perhatian yang lebih besar pada pengelolaan air.

Mulai dari hal sederhana seperti menghemat penggunaan air sehari-hari, menampung air hujan untuk digunakan pada musim kemarau, hingga memanfaatkan kembali air bekas yang masih layak. Di lingkungan pertanian, pembangunan embung dan penggunaan mulsa dapat membantu menjaga ketersediaan air. Sementara dalam jangka panjang, penghijauan, perlindungan daerah resapan, serta pembuatan sumur resapan yang sesuai kondisi lingkungan juga perlu mendapat perhatian.

Penulis membayangkan, alangkah baiknya jika kepedulian masyarakat ketika melaksanakan salat istisqa juga menjadi momentum untuk membicarakan persoalan pengelolaan air di lingkungannya. Bukan untuk mengurangi makna ibadah tersebut, melainkan sebagai bentuk ikhtiar lain yang berjalan bersamaan. Sebab agama mengajarkan kita untuk memohon pertolongan kepada Allah, sementara pengetahuan membantu kita memahami persoalan alam dan mencari jalan untuk menghadapinya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Pada akhirnya, musim akan terus berganti. Ada waktunya hujan datang, ada pula waktunya kemarau kembali. Tetapi kebutuhan manusia terhadap air tidak pernah benar-benar berhenti.

Barangkali, di samping memohon agar Allah menurunkan hujan, kita juga perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjaga air yang selama ini telah Allah turunkan?

Tulis komentar →

No comments:

Post a Comment


← Kembali ke beranda