Bu Lik Ngapusi

October 11, 2026 · Lisa BintiZumri

“Ah, nggak mau. Bu Lik ini ngapusi,” tolak Faza ketika kuminta sore tadi siapa yang mau mandi lebih dulu akan kuajak pergi jajan.

Faza, yang memang cerewetnya khas anak perempuan seusianya, langsung mengomel panjang. Ia mulai mengungkit satu per satu janji ajakan jajan yang pernah kuucapkan, tetapi entah bagaimana selalu berakhir menjadi rencana yang tidak pernah benar-benar terlaksana.

“Ah, iya Bu Lik pasti ngapusi.”

Respons yang kurang lebih sama datang dari Fata. Bedanya, meski mulutnya ikut menuduhku berbohong, aku tahu di sudut hatinya masih tersisa sedikit kepercayaan. Seolah ia masih menyimpan kemungkinan bahwa kali ini adik dari ibunya ini benar-benar akan menepati janji.

Aku hanya tertawa mendengar mereka berdua. Rupanya anak-anak punya ingatan yang cukup panjang untuk urusan janji, terutama jika di ujung janji itu ada makanan, mainan, atau hal-hal yang mereka sukai. Mereka mungkin lupa di mana menaruh sandal lima menit yang lalu, tetapi janji diajak jajan tiga minggu lalu bisa tersimpan rapi dalam ingatan, lengkap dengan kalimat janj-janjinya yang bahkan aku sendiri lupa, juga siapa saja yang menjadi saksi saat itu.

Awalnya aku menganggap omelan mereka lucu. Sampai kemudian terpikir, mungkin begitulah rasanya menjadi orang yang berkali-kali diberi sesuatu untuk ditunggu.

Bukan soal jajannya. Bukan pula soal ke mana akan pergi. Yang membuat mereka kecewa barangkali karena setiap kali aku berkata, “nanti kita pergi,” mereka benar-benar membayangkan bahwa nanti itu akan datang. Mereka percaya lebih dulu, sementara aku mengucapkannya dengan ringan.

Aneh juga. Aku baru benar-benar memahami perasaan mereka ketika menyadari bahwa di tempat lain, aku pun sedang melakukan hal yang sama: menyimpan beberapa kata sederhana, mengingat rencana-rencana yang pernah diucapkan, lalu diam-diam berharap suatu hari kata-kata itu berubah menjadi kejadian.

Dan layaknya Fata, rupanya aku juga tidak langsung berhenti percaya meski segala yang teerucap itu benar wacana adanya.

Setelah satu janji lewat, masih ada alasan untuk memaklumi. Setelah janji berikutnya tidak terjadi, masih ada pikiran, mungkin memang belum sempat. Lalu ketika hal serupa berulang, kita mulai belajar mengecilkan harapan, ya meskipun anehnya tidak pernah benar-benar berhasil menghilangkannya.

Barangkali itulah sebabnya kalimat Faza sore ini terasa sedikit lebih panjang daripada yang sebenarnya.

“Bu Lik ngapusi.”

Ia mengatakannya sambil kesal, lalu beberapa menit kemudian kembali bermain seperti biasa. Anak-anak mungkin jauh lebih pandai daripada orang dewasa dalam perkara kecewa. Mereka mengatakannya, marah dan kesal sebentar, lalu melanjutkan hidup. Bahkan mereka tetap clingy pada orang yang berkali-kali membuatnya kecewa, seperti Bu Liknya ini.  Sementara orang dewasa sering kali melakukan sebaliknya. Tidak mengatakan apa-apa, kesal tak berujung, tetapi diam-diam masih menunggu.

Sore ini aku benar-benar menepati janji. Aku memang harus keluar membeli bensin. Jadi sekalian saja kuajak Faza dan Fata pergi. Tidak ke tempat mewah, tidak pula ke tempat yang sebelumnya mungkin mereka bayangkan dari sekian banyak janji jajanku. Kami hanya mampir membeli roti sandwich kesukaan mereka.

Sesederhana itu.

Baru perjalanan berangkat saja Faza sudah senang bukan main. Ia bahkan izin padaku untuk menyanyikan Indonesia Raya sepanjang jalan.

Aku tertawa. Rupanya, keberhasilanku menepati janji jajan bisa juga membangkitkan rasa nasionalisme.

Tulis komentar →

4 comments:

  1. Bagus ceritanya mbak Lisa. Pemilihan katanya juga pass gituu. Enak dibacaa

    ReplyDelete


← Kembali ke beranda