Barangkali, dari sekian banyak makhluk hidup di bumi, semut adalah salah satu yang paling jarang kita pikirkan nasibnya. Ia terlalu kecil untuk diperhatikan, terlalu banyak untuk dihitung, dan terkadang anatara mudah dan tidak mudah disingkirkan ketika keberadaannya mulai mengganggu.
Kita mungkin pernah membunuh seekor semut hanya karena ia berjalan di atas meja makan. Atau menyiram segerombolan semut dengan air panas karena mereka membuat sarang di sudut rumah. Tidak ada perasaan bersalah yang berarti. Toh, hanya semut. Juga keberadaanya mengganggu kenyamanan.
Tetapi siapa sangka, makhluk sekecil itu pernah menjadi bagian dari sebuah teguran Tuhan yang diabadikan dalam hadis Nabi. Dalam Sahih Muslim nomor 2241, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menceritakan kisah seorang nabi yang digigit semut. Karena gigitan tersebut, sang nabi memerintahkan agar koloni semut dibakar. Allah kemudian menegurnya:
أَفِي أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَهْلَكْتَ أُمَّةً مِنَ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ“Hanya karena seekor semut menggigitmu, engkau membinasakan satu umat di antara umat-umat yang bertasbih?”
Penulis membayangkan betapa kecil peristiwa yang mengawali kisah itu. Seekor semut menggigit seseorang. Sesuatu yang mungkin pernah kita alami dan segera kita lupakan. Namun, reaksi terhadap gigitan itu justru berakhir dengan musnahnya satu koloni.
Ada sesuatu yang mengusik dari kisah tersebut. Allah tidak hanya menyinggung semut yang menggigit, tetapi juga menyebut semut-semut lain sebagai sebuah ummah, komunitas makhluk hidup yang bertasbih. Satu semut melakukan sesuatu, tetapi seluruh koloninya menanggung akibat. Bukankah cara berpikir seperti ini juga kerap muncul dalam hubungan manusia dengan alam?.
Kita merasa terganggu oleh keberadaan makhluk tertentu, lalu menganggap wajar untuk melenyapkan tempat hidupnya. Kita membutuhkan lahan untuk industri atau untuk perkebunan sawit, maka pepohonan lain disingkirkan. Kita menginginkan pembangunan, maka bentang alam diubah. Kita merasa punya kepentingan, sementara makhluk lain seolah tidak mempunyai hak untuk tetap tinggal.
Tentu saja, manusia membutuhkan tanah untuk bercocok tanam, rumah untuk berlindung, dan ruang untuk menjalankan kehidupannya. Tidak semua perubahan juga kebutuhan terhadap alam berarti kerusakan. Tetapi persoalannya menjadi lain ketika kebutuhan berubah menjadi keserakahan, dan kemampuan menguasai alam dianggap sebagai izin untuk memperlakukannya sesuka hati.
Dari sini penulis teringat sebuah istilah dalam kajian lingkungan: antropogenik. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang disebabkan atau dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Pencemaran, rusaknya habitat, hingga meningkatnya risiko bencana tertentu dapat memiliki faktor antropogenik.
Menariknya, istilah itu seakan mengingatkan bahwa manusia bukan hanya penghuni bumi yang menerima akibat perubahan lingkungan. Dalam banyak hal, manusia juga menjadi penyebabnya.
Kita membicarakan krisis ekologis seolah-olah semuanya terjadi dengan sendirinya. Hutan yang hilang, sungai yang tercemar, tanah yang rusak, atau hewan yang kehilangan habitatnya sering hadir sebagai deretan berita dan angka statistik. Padahal, di balik sebagian kerusakan itu terdapat keputusan-keputusan manusia. Ada tindakan yang disengaja, ada kelalaian, dan ada kepentingan yang lebih didahulukan daripada kelangsungan makhluk hidup lain.
Hadis tentang semut tadi tentu tidak sedang menjelaskan perubahan iklim atau kerusakan ekosistem dalam pengertian ilmu lingkungan modern. Ia hadir dalam konteks yang berbeda. Karena itu, kita tidak perlu memaksakan seolah-olah Nabi sedang berbicara tentang seluruh persoalan ekologis yang kita hadapi hari ini.
Namun, bukan berarti kisah tersebut kehilangan relevansinya. Justru ada pertanyaan moral yang dapat kita bawa dari hadis itu:
sejauh mana manusia boleh menimpakan kerusakan kepada makhluk lain demi kepentingannya sendiri?
Teguran dalam hadis tersebut tidak hanya memperlihatkan akibat dari sebuah tindakan, tetapi juga mengingatkan adanya kehidupan lain yang patut diperhitungkan. Koloni semut bukan sekadar kumpulan serangga yang kebetulan berada di suatu tempat. Dalam bahasa hadis, mereka adalah satu umat yang bertasbih.
Kata ummah di sini menarik untuk direnungkan. Kita terbiasa menggunakannya ketika membicarakan kelompok manusia, terutama umat beragama. Tetapi hadis ini memperlihatkan bahwa kata tersebut juga dapat digunakan untuk menyebut komunitas makhluk selain manusia.
Barangkali, salah satu persoalan kita dalam memperlakukan lingkungan berawal dari kebiasaan melihat alam hanya dari kegunaannya bagi manusia. Pohon dianggap penting karena menyediakan kayu, sungai karena menyediakan air, dan tanah karena dapat menghasilkan keuntungan.
Lalu bagaimana dengan semut?
Apa manfaatnya bagi kita sehingga ia layak dipertahankan?
Pertanyaan semacam ini mungkin terdengar masuk akal dalam cara berpikir yang selalu mengukur sesuatu berdasarkan manfaat ekonomi. Tetapi hadis tadi mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Keberadaan makhluk lain tidak harus selalu dibenarkan oleh seberapa besar manfaat yang dapat kita ambil darinya.Mereka juga hidup. Mereka memiliki komunitas. Dan dalam bahasa keimanan, mereka pun bertasbih kepada Tuhan.
Kita cukup tahu bahwa hutan merupakan habitat banyak spesies, tetapi masih saja menganggap pembukaan lahan secara merusak sebagai urusan biasa. Kita cukup mengetahui bahwa lingkungan yang rusak dapat membawa akibat panjang, tetapi sering kali baru merasa perlu membicarakannya setelah bencana datang. Ironisnya, kita juga mudah mengucapkan bahwa alam adalah ciptaan Allah, sementara dalam praktiknya kita kerap memperlakukan ciptaan itu seolah seluruhnya tersedia untuk kepentingan sepihak saja.
Pada akhirnya, kisah dalam Sahih Muslim itu menyisakan kegelisahan yang sederhana. Seorang nabi mendapat teguran karena satu koloni semut dibinasakan akibat gigitan seekor semut. Lalu, bagaimana dengan manusia hari ini, yang memiliki teknologi, kekuasaan, dan kemampuan mengubah bentang alam dalam skala yang jauh lebih besar?.
Jika Tuhan saja begitu memperhitungkan nasib satu koloni semut, mengapa kita begitu mudah mengabaikan nasib sebuah ekosistem?.

No comments:
Post a Comment