Aku pergi mengunjungi Puskesmas. Datang dengan mendaftar lewat aplikasi JKN, membayar iuran bulan PMI, duduk menunggu sambil menonton video layanan kesehatan masyarakat, mendengar bel antrean kemudian masuk ruang pemeriksaan dengan diawali menimbang berat badan.
Dua hari sebelumnya aku diare akut, membuatku meninggalkan qunut sebab subuh itu kacau sekali rasanya. Tentu lemas, lemah untuk memperjuangkan semuanya. Benar-benar pagi itu selesai lebih cepat dari sebiasanya.
Entah sejak kapan aku mulai memakai kata memperjuangkan untuk begitu banyak hal.
Padahal dulu kata itu terdengar besar. Seperti sesuatu yang pantas disandingkan dengan perang, cita-cita luhur, atau kisah-kisah orang yang bertahan hidup di tengah keadaan yang tidak mudah.
Sekarang kata itu kupakai sekedar untuk bangun pagi. Untuk membuka mata yang rasanya belum benar-benar siap untuk manatap hari, belum benar-benar siap kembali menjadi seseorang yang harus mengerjakan banyak hal seolah semalam kepalanya tidak habis dipakai memikirkan ini dan itu.
"Apa yang dirasakan, Mbak?"
Aku menyebutkan satu per satu yang bisa dijelaskan tubuh: perut yang masih sakit, kepala yang sesekali berat, badan yang lemas, juga keringat dingin yang datang tanpa permisi. Hal-hal yang cukup sederhana untuk dicatat dalam rekam medis dan, mungkin, cukup jelas untuk dicarikan obatnya.
Kalau saja pertanyaannya sedikit diperpanjang, apa yang sebenarnya sedang dirasakan ?, mungkin jawabannya akan jauh lebih rumit.
Ada masalah yang hanya berganti bentuk. Ada hal-hal kecil yang terus menunggu dibereskan, sementara yang baru sudah datang sebelum yang lama sempat benar-benar diletakkan. Dan aku, seperti biasa, mencoba mengerjakan semuanya dengan wajah yang seolah masih punya cukup tenaga.
Mungkin selama ini aku terlalu terbiasa menganggap lelah sebagai bagian biasa dari hidup. Selama masih bisa bangun, berangkat, pulang, lalu mengulanginya lagi, kupikir semuanya masih baik-baik saja. Sampai tubuh rupanya merasa perlu ikut bicara.
"Obatnya diminum, ya!. Kalau dalam tiga hari tidak ada perubahan, silakan ke sini lagi."
Aku mengangguk. Tiga hari. Ternyata tubuh diberi waktu sesederhana itu untuk menunjukkan apakah ia membaik atau tidak.
Entah kenapa aku iri pada kalimat itu. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak pernah memberiku batas sejelas tiga hari. Tidak ada yang berkata, kalau pekerjaan ini terlalu melelahkan, cutilah. Kalau mimpi ini terlalu jauh, istirahatlah. Kalau sesuatu yang kau tunggu tidak juga berubah, pulanglah. Maka selama ini aku terus tinggal di banyak hal lebih lama dari yang seharusnya, hanya karena tidak tahu kapan tepatnya harus mengatakan: cukup.
Setelah tiga hari, aku kembali mengunjungi Puskesmas. Datang dengan mendaftar lewat aplikasi JKN, membayar iuran bulan PMI, duduk menunggu sambil menonton video layanan kesehatan masyarakat, mendengar bel antrean kemudian masuk ruang pemeriksaan dengan diawali menimbang berat badan.
"Apa yang dirasakan, Mbak?"
Kujawab, diarenya berhenti, tetapi sakit perutnya tidak selesai.
Ya begitulah, ada hal-hal yang memang sudah berhenti, tetapi tidak benar-benar selesai. Seperti janji yang tidak lagi sering disebut, tetapi diam-diam masih kutunggu. Seperti seseorang yang tetap ada, hanya saja kehadirannya belakangan terasa semakin sulit kurasakan.
Dan belakangan hidup terasa dipenuhi hal-hal semacam itu. Pekerjaan yang belum tuntas, rencana yang belum jadi, beberapa keinginan yang terus tertunda, juga percakapan-percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Semuanya seperti mengambil sedikit ruang di kepala, lalu memilih tinggal lebih lama dari yang kuinginkan.Semacam itu yang membuat sesuatu terasa begitu menyakitkan.
"Dinding lambungnya menipis, jadi ini saya kasih obat sebelum makan untuk melapisi dinding lambung supaya tidak sakit."
Aku mengangguk sambil menerima penjelasan itu seperti pasien yang baik. Tidak boleh telat makan, tidak boleh makan yang asam dan pedas, obat diminum sebelum makan, supaya ada yang melapisi lebih dulu sebelum tubuh menerima sesuatu.
Rupanya ada bagian-bagian tertentu yang ketika terlalu sering menerima sesuatu, perlu diberi lapisan agar tidak terus-terusan sakit.
Manusia juga begitu, adakalanya perlu melapisi diri dari semua masalah dengan sedikit tidak peduli, sedikit menurunkan harapan, sedikit berpura-pura tidak menunggu. Bukan karena semuanya sudah tidak penting, tetapi karena rasanya tidak mungkin terus menerima semuanya dengan bagian diri yang sama telanjangnya.
Aku pulang dari Puskesmas, membawa obat dan aturan minumnya serta pemahaman bahwa tidak semua yang sakit harus dipaksa lekas sembuh hanya karena sudah dapat obatnya. Tidak semua berjodoh hanya karena bertemu orangnya. Ada yang memang perlu waktu. Ada yang perlu jarak. Ada pula yang mungkin tidak harus kembali seperti semula.
Malam itu aku menelan obat sebelum makan, seperti pesan dokter, supaya ada yang melapisi lebih dulu sebelum sesuatu masuk dan kembali melukai. Lalu aku berpikir, barangkali belakangan ini aku juga sedang belajar hal yang sama, tidak menerima semuanya dengan tangan terbuka, tidak menaruh harapan di tempat yang sama berkali-kali, dan tidak terus memaksa diri untuk kuat hanya karena orang lain terbiasa melihatku begitu.
Untuk sementara, biarlah beberapa pekerjaan menunggu, beberapa rencana berjalan lebih lambat, dan seseorang belajar bahwa aku juga bisa lelah menunggu.

No comments:
Post a Comment