Long time no wriiiiiiiiite!!!
Akhirnya kembali lagi ke halaman blog yang dulu jadi tempat jiwa mudaku bergeliat dengan ide-ide selepas jam kuliah. Dulu rasanya hampir apa saja ingin ditulis. Habis baca sesuatu, tulis. Habis kesel, tulis. Kangen mantan, tulis. Habis mikir yang ndak jelas, ya ditulis juga.
Sekarang setelah sekian tahun kembali membuka Blogger, kok rasanya ndak banyak berubah ya?
Canvasnya masih begitu. Tombol-tombolnya juga rasanya masih berada di tempat yang sama. Sampai aku sempat mikir, apa Google lupa ya kalau dia pernah punya Blogger.
Atau memang sengaja ndak diapa-apakan.
Barang kali Google tahu, orang-orang yang masih bertahan di Blogger ini bukan sedang mencari sesuatu yang canggih-canggih amat. Mereka cuma sedang mencari suasana lama. Atau orang semacam aku yang tiba-tiba pulang lagi setelah pergi entah ke mana, lalu senang sendiri karena rumah lamanya ternyata masih begitu-begitu saja.
Di era serba AI begini sebenarnya gampang saja kalau Google mau kasih fitur pengoreksi ejaan, tanda baca, huruf kapital atau minimal mengingatkan kalau kita salah nulis. Wong sekarang AI bisa disuruh bikin skripsi, masa sekadar memperbaiki koma ndak bisa.
Tapi Blogger tetaplah Blogger.
Salah ketik dibetulkan sendiri. Huruf kapital diperiksa sendiri. Koma yang ketinggalan ya dicari sendiri.
Benar-benar tempat yang diam-diam menguji apakah pelajaran Bahasa Indonesia kita dulu masih nyangkut atau sudah ikut hilang bersama rumus-rumus matematika yang sampai sekarang saya ndak tahu gunanya buat apa.
Tapi mungkin justru itu serunya.
Kita cuma ketemu halaman kosong, beberapa tombol, lalu kepala sendiri yang mendadak harus bekerja, mau nulis apa?
Dan entah kenapa, setelah sekian lama meninggalkan tempat ini, rasanya menyenangkan bisa kembali.
Jadi, mari ku persilahkan kembali masuk ke ruang berpikirku yang kadang agak abstrak ini.
Kalau dulu blog ini isinya banyak hal random, sepertinya sekarang juga ndak akan jauh-jauh dari itu. Hanya saja sekarang ada tiga hal yang sepertinya akan lebih sering ku bahas di sini.
Pertama, sastra.
Ini seperti penyakit lama yang ternyata ndak sembuh-sembuh.
Puisi, cerpen, cerita pendek, keresahan yang dibungkus jadi cerita, atau cerita-cerita yang agak berhikmah walaupun kadang saya sendiri baru tahu hikmahnya setelah tulisan selesai.
Dulu kalau sedang sedih ingin bikin puisi. Senang bikin puisi. Jatuh cinta apalagi. Sekarang mungkin sudah agak berbeda. Hidup makin banyak urusannya. Tapi rupanya manusia tetap butuh tempat untuk mengubah hal-hal yang ndak bisa diomongkan menjadi kalimat.
Yang kedua, hadis.
Nah, kalau ini agak serius sedikit.
Bertahun-tahun hidupku ndak pernah benar-benar jauh dari kitab, hadis, sanad, matan dan segala keribetan yang mengikutinya. Lulusan ilmu hadis bos!, ya kali diam tidak mencoba menyalurkan ilmunya. Tapi makin aku belajar malah makin merasa banyak yang ndak tahu. Apalagi belakangan aku mulai tertarik mengawinkan ilmu-ilmu lama ini dengan sesuatu yang jauh lebih baru.
Digital Humanities namanya.
Hadis yang basicnya data manuskrip, ketemu komputer. Bahkan ketemu coding.
Kedengarannya memang agak ndak nyambung.
Dulu kalau dengar penelitian hadis, bayanganku ya kitab bertumpuk, stabilo, catatan kaki panjang dan kopi arabika. Sekarang malah bisa sibuk mikir bagaimana sanad divisualisasikan dalam peta atau bagaimana ribuan teks hadis dibaca komputer sambil minum matcha late.
Aneh memang.
Tapi justru karena agak aneh itu aku suka.
Terus yang ketiga, dunia digital.
Coding, website, desain, aplikasi dan barang-barang semacam itu yang entah bagaimana ikut masuk ke hidup ku.
Kadang pagi sampai siang ngajar. Sorenya baca kitab. Malam bukannya tidur malah dibuat emosi dengan CSS gara-gara kotak ndak mau geser dua senti ke kiri.
Besoknya kapok.
Lusa coding lagi.
Begitulah.
Jadi aku ndak bisa menjanjikan blog ini akan punya satu tema yang rapi. Bisa jadi hari ini ngomongin hadis, besok puisi, lusa coding, lalu tiba-tiba nulis soal murid, pendidikan, perempuan, buku yang baru kubaca, pengalaman gagal nikah atau perkara receh yang sebenarnya ndak penting tapi telanjur muter di kepala.
Ya sudah ditulis saja.
Toh sejak dulu blog ini memang bukan jurnal ilmiah yang setiap paragrafnya harus tahu mau dibawa ke mana.
Ini cuma ruang kecil untuk menyimpan isi kepala.
Kadang serius.
Kadang agak ndak jelas.
Kadang mungkin sok tahu.
Tapi ya begitulah.
Setelah lama ndak menulis, rasanya saya ingin kembali menjadi orang yang kalau kepikiran sesuatu tidak cuma bilang, “wah menarik juga,” lalu besoknya lupa.
Sekarang coba ditulis lagi.
Barang kali beberapa tahun lagi saya kembali membaca tulisan ini dan bilang,
“Ya Allah, dulu aku ternyata begini.”

Keren sekali
ReplyDeleteTerimakasih
ReplyDelete